Senin, 13 Juni 2011

Manis dan pahit nya cinta


Manis dan pahit nya cinta

Cinta , cinta itu apa ya????? Bingung menerjemahkan cinta… tapi menurut ku cinta itu adalah kasih sayang terhadap sesorang. Cinta itu luas pengertian nya .

Cinta tidak selamanya indah dan tidak selamanya buruk ,, tapi yang sakit nya kalau cinta itu hanya ada di saat awal pacaran saja , tapi di tengah-tengah selingkuh , berdua ma cowok lain.  Hmhmhmhmmhm panas jadi nya

Manis nya cinta ya bisa terus bersaMA nya sepanjang masa dan abad :P  , saling setida,saling menyanyangi dan mencintain.
Kalau pahit nya ya mungkin di selingkuhi dan si dia jalan atau apalah gitu ma orang lain dan ada dusta diantara mereka

Apakah kita bisa dapat cinta yang manis???? Atau kah kita dapat pahit nya cinta??? Iitu bisa di jawab dengan perasaan masing-masing

Manis nya cinta bisa di dapat jika dari masing-masing pasangan menerapkan system saling terbuka dan jangan ada dusta alna dusta itu menyakitkan…

Inti dari catatan ini adalah bagaimana pun pasti kita pernah merasakan manis pahit nya cinta, tapi bagaimana pun cinta itu indah jika kita dapat mengatur,menjaga,konsisten dan setia.

Catatan : akbar Maulana

Jumat, 10 Juni 2011

PSMS Bintang, Bintang PSMS, Medan City, PSMS 1950

PSMS Bintang, Bintang PSMS, Medan City, PSMS 1950

Catatan Sepakbola | T Agus Khaidir

Beberapa waktu lalu, dalam percakapan bersama beberapa rekan pada forum diskusi level warung kopi, tentunya setelah ngalor ngidul kesana kemari mulai soal heboh SMS "main belakang" Nazaruddin hingga Lionel Messi, sekonyong-konyong tercuat topik soal PSMS.
BUKAN menyangkut kegagalan menyakitkan di putaran delapan besar yang hingga detik ini penyebabnya masih menyisakan misteri. Bukan pula terkait ribut-ribut beberapa eks pemain yang menyebut gajinya yang sampai detik ini belum dibayarkan. Tapi perihal wacana peleburannya dengan Bintang Medan.

Disebut wacana karena sejauh ini memang baru sekadar ide. Itu pun kemudian diketahui bukan dicetuskan oleh kedua lembaga bersangkutan. Para petinggi manajemen PSMS Medan maupun Bintang Medan sama-sama terkejut mendengarnya.

Sebelum masuk pada keterkejutan itu, barangkali ada baiknya dirunut dulu seperti apa idenya. Ide yang ketika dipandang sekilas pintas memang memukau, memesona, menakjubkan, tapi setelah dicermati lebih jauh dan lebih dalam ternyata -meminjam kalimat yang biasa muncul dalam kisah-kisah humor tahun 1950an (yang rata-rata ditulis oleh pengarang peranakan Indonesia-Tionghoa)- amatlah loetjoe sampai bikin moelas peroet.

Ide besarnya adalah penyatuan Indonesia Super Liga (ISL) dan Liga Primer Indonesia (LPI): liga "negeri" dan "swasta" di negeri ini. Konon FIFA sudah memberi ultimatum agar dagelan yang sesungguhnya tak lucu ini segera dihentikan. "Kami cuma mau mengakui satu liga. Kalian pilih satu di antaranya," barangkali begitu Sepp Blatter berkata.

Karena hampir tidak mungkin menghentikan ISL (dan seluruh turunannya hingga divisi III), maka sudah barang tentu LPI yang harus dihilangkan. Namun sudah tentu pula hal ini tidak semudah membalik telapak tangan. Bagaimanapun konsorsium LPI telah berbuat untuk sepakbola negeri ini  (kalimat lain untuk menyebut sudah mengeluarkan dana yang jumlahnya tidak sedikit). Liga telah digelar: ada jadwal pertandingan, ada klub, ada pelatih, pemain, ofisial, ada panitia pertandingan, ada tukang catut karcis, ada pedagang asongan, ada tukang parkir, dan lainnya. Pendek kata, ada banyak orang yang mencari makan di sana dan karena faktor kemanusiaan juga harus masuk sebagai parameter perhitungan.

Barangkat dari sini ide yang muncul bukan pembubaran, tapi penyatuan. Dua belah pihak setuju. Yang belum disepakati adalah konsep penyatuannya. Kemana LPI akan dilebur? Nah, sampai di sini, seperti Belanda yang sudah dizinkan masuk untuk berbisnis jual beli rempah tapi kemudian serakah mau mencaplok tanah, "orang-orang" LPI, lewat kepercayaan diri tingkat tinggi ngotot ingin masuk ke ISL, kasta tertinggi sepakbola nasional. Artinya, klub-klub yang baru dibentuk rata-rata satu tahun ini (kecuali PSM Makassar, Persema Malang, Persebaya Surabaya, dan Persibo Bojonegoro), melesat langsung melewati tiga jenjang. Padahal tiap tahun ratusan klub berjuang satu musim kompetisi penuh (sekitar 9-10 bulan) untuk naik level.

Mungkin karena banyak yang mentertawakan kekonyolannya, kengototan ini surut. Berganti wacana lain, yakni merger, peleburan. Klub LPI melebur dengan klub dari liga PSSI yang berada dalam satu wilayah. Misalnya, Persija dengan Batavia Union atau Jakarta 1928, Persipura dengan Cendrawasih Papua, Semen Padang dengan Minangkabau FC, Persiraja dengan Aceh United, Persib dengan Bandung FC, dan lainnya, termasuk Pro Titan dengan Medan Chiefs dan PSMS dengan Bintang Medan. Tujuannya sama, masuk ke ISL.

Sampai di sini muncul tiga tanda tanya. Pertama, klub yang tidak memiliki patner merger di satu wilayah akan pergi kemana? Ke ISL, ke Divisi Utama, ke Divisi I atau kemana?

Contohnya Bali De Vata. Kemana mereka akan melebur? Bali sebenarnya bukan tak punya klub yang berkiprah di Liga Indonesia. Namun Persegi Gianyar dan Persekaba Badung hanya berada di Divisi I. Perseden Denpasar bahkan lebih jauh lagi di level bawah. Apakah klub LPI nan merasa diri elitis ini mau berkompetisi di sana? Rasanya tidak. Karena jika tidak, tentulah Bintang Medan tak hanya membidik PSMS yang berada di Divisi Utama. Mereka pasti juga akan melirik Medan Jaya atau PSDS Deliserdang yang saat ini berkutat di Divisi I.

Tanda tanya kedua dan ketiga memiliki keterkaitan satu sama lain karena sama-sama berhubungan dengan kata sepakat. Apakah klub-klub Liga Indonesia mau saja dimerger?

Peleburan hakekatnya menguatkan. Bagaimana jika upaya peleburan justru tidak merujuk ke arah itu? Bukan bermaksud menyepelekan. Tapi apalah, misalnya, yang bisa diharap dari Cendrawasih Papua? Apakah mereka bisa menambah soliditas, kemapanan teknik, dan ketajaman yang sudah terbentuk di antara Boaz Salossa dan kawan-kawan yang tahun ini kembali menjuarai ISL? Kekuatan kedua klub ini ibarat bumi dan langit. Yang satu juara kompetisi level tertinggi, bahkan melesat memberi sengatan di Liga Champions Asia, yang satu terpuruk di dasar klasemen LPI.

Alangkah beruntungnya Cendrawasih. Alangkah malangnya Persipura. Atau mungkinkah mereka sedikit menurunkan posisi tawar, merayu untuk melebur bersama Persiwa Wamena? Atau, jika memang upaya menyeberang ke ISL cukup dengan melebur dengan klub Divisi Utama, bisakah mereka mendekati Perdafon Dafonsoro, Persiram Raja Ampat, atau Perseman Manokwari?

Belum lagi jika bicara dari sudut pandang cocok tak cocok. Lihatlah ke Malang! Arema dan Persema, sampai datang "hari kiamat" sekalipun barangkali tidak akan mau saling melebur. Arema telah lama memproklamirkan diri sebagai "suara rakyat", sedangkan Persema sebaliknya, "nafas birokrat". Mereka bermusuhan dari sisi filosofis dan ideologi, seperti halnya Real dan Atletico di Madrid atau Juventus dan Torino di Turin.

Baiklah dari Malang akan datang dua tim. Bagaimana kota-kota lain? Persija, apakah akan melayani peleburan sekaligus dari Batavia Union dan Jakarta 1928? Jika Macan Kemayoran menolak, kemana bidikan beralih? Ke Persitara yang berada di Divisi Utama? Atau ke Persikota dan Persita Tangerang dengan risiko bersaing dengan Tangerang Wolves? Juga Persiba Bantul, apakah akan lapang dada bersedia membonceng Ksatria Solo FC dan Real Mataram, setelah mereka berjuang sampai nafas ngos-ngosan untuk bisa lolos ke ISL?

Sampai di sini saja kekacauan sudah sangat kompleks. Tapi itu belum cukup. Masih ada kekacauan lain yang lebih prinsipil sifatnya. Sebagaimana lazimnya peleburan, tentulah diperlukan nama baru sebagai penanda identitas terkini. Keliru benar jika menganggap perkara mengubah nama ini seremeh hal serupa dalam program custom game pada winning eleven, pro evolution soccer, atau football manager. Di alam nyata, nama ini menyangkut karakteristik, sejarah, bahkan kehormatan.

Belum jelas di daerah lain, tapi untuk wacana merger PSMS Medan dan Bintang Medan, sejauh ini sudah tercetus empat opsi nama, yakni PSMS Bintang, Bintang PSMS, Medan City, dan PSMS 1950. Tapi persoalannya, apakah orang Medan setuju?

Sampai kapan pun mungkin tidak. Maka seperti para petinggi manajemen PSMS dan Bintang Medan, keterkejutan yang sama juga muncul dari para dedengkot kelompok suporter. Nata Simangunsong dari SMeCK Hooligan menyebutnya sebagai wacana ngawur. Usman Toekoel lebih keras lagi bersuara. Pentolan PSMS Fans Club ini, sang peneriak di pagar tribun sektor utara Stadion Teladan, pada akun Facebook miliknya menuliskan kalimat ini: "Mau BM, PSMS Bintang, suka kalian lah itu, yg jelas kami bukan penjilat. Hanya PSMS Medan yang kami dukung. Selain itu haram."

SMeCK memiliki kurang lebih 10 ribuan anggota yang loyal dan rela melakukan hal paling gila sekalipun demi PSMS. Semboyan mereka yang terkenal berbunyi "PSMS Sampai Mati". PSMS Fans Club tidaklah kalah militan. Masih pula ada Kampak FC yang meneriakkan ketidakrelaan serupa. Jadi apalagi! Rasanya tak ada suara lain yang lebih sahih dari suara mereka.(*)





RENOVASI STADION TELADAN BAGAI MIMPI DI SIANG BOLONG

STADION TELADAN DIRENOVASI BAGAI MIMPI DISIANG BOLONG

Siapa yang gak kenal stadion teladan????? Yang dulu merupakan stadion terbesar setelah SUGBK , dan pernah di helat perandingan tim seri A italia, tapi stadion teladan dimakan waktu dan zaman dengan tidak disertai dengan perawatan yang berarti.
Mengingat historis puluhan tahun silam, PSMS Medan berjaya. Meskipun turun kelas, Ayam Kinantan tetap menawan dan mempesona. Tingkat Nasional, tim kebanggaan kota Medan ini sudah menyandang enam kali gelar juara – semenjak kompetisi resmi PSSI tahun 1951. Bahkan berhasil pula mengambil gelar juara berturut-turut di tahun 1967, 1969 dan 1971. Tak cukup sebagai jawara di tanah air, juga mengukir prestasi di tingkat Asia.

The Killer – julukan lain dari PSMS Medan, mencatat sebanyak lima kali mengikuti kejuaraan di luar negeri. Dalam Turnamen bertajuk Aga Khan Gold tahun 1967 di Dakka Pakistan Timur (Bangladesh, Red), PSMS keluar sebagai juara. Dua gol dari Tumsila menumbangkan klub tuan rumah Mohamaden dengan skor 2-1. Berlanjut di tahun 1977, dalam gelaran Quenn Cup di Bangkok. Sayangnya, anak-anak Medan ini gagal menempuh babak semifinal. Terakhir, PSMS Medan mencatatkan sebagai tim pertama dari Indonesia yang lolos sampai babak 16 besar, di AFC Cup 2009 lalu.Sebuah prestasi yang membanggakan tentunya. Itulah sederetan fakta. Kebenaran dan kebanggaan yang pelan-pelan luntur, akibat menurunnya prestasi.

Prestasi PSMS Medan dimana sebuah zaman, saat Stadion Teladan berdiri megah. Stadion yang layak untuk ditandangi klub – klub dari Asia, seperti Korea, Jepang, Vietnam, Singapura dan Burma. Stadion Teladan yang melahirkan sejarah hingga cerita menarik lainnya. Perseteruan dan perselihan tumbuh di kalangan pemain. Misalnya protes kapten klub Vietst, Nguyen Van Mon. Terkait keputusan wasit Takayama dari Jepang, atas hakim garis Polinandu yang tidak melihat offside pemain PSMS. Ada juga juga perseteruan pemain Korea Selatan dengan anak-anak bola Vietnam Selatan. Belum lagi kericuhan antara Tumsila (PSMS) dan Jacob Sihasale plus Didiek dari Persebaya.
Setelah dibangun menyambut even Nasional PON III 1953 di Sumatera Utara, Stadion Teladan saat itu sangat representative. Tak hanya dari deretan Asia, klub dari Australia dan Belanda hingga Lokomotiv Rusia sekalipun pernah menginjakan kakinya.

Termasuk tim selevel Seri A Liga Italia, Samdoria di tahun 1996, saat melawan tim nasional Indonesia. Tingginya arus kompetisi di Stadion Teladan membuahkan pemain bintang.
Kota Medan menjadi salah satu barometer sepakbola di Indonesia. Tercatat dalam sejarah nama-nama seperti Ramlan Yatim, Manan Laly, Ramli Yatim, Buyung Bahrum, Rasyid, Anwar Daulay, Idris, Jusuf Siregar, Syamsudin, Ahmad Kadir dan Cornel Siahan (PSMS tahun 1950-an). Menyusul terdapat Yuswardi, Muslim, Rudy Siregar, Jamaluddin, Zulham Yahya, Sunarto, Edy Suwardi, Abdul Rahim, Zulkarnaen, Ipong Silalahi dan Nawir Siregar di tahun 1960-an. Berlanjut ke tahun 1987, zamannya Sunardi B dan juga Nobon, Ponirin hingga pemain Parlin Siagian.

Kini waktu terus berjalan. Banyak harapan besar yang diwariskan untuk melanjutkan tradisi hebat tersebut. Sayangnya, harapan itu gagal total. Kota Medan seperti bermimpi dalam kondisi yang tidak tertidur. Berharap berprestasi namun tidak bekerja. Apalagi pasca Badan Liga Indonesia (BLI) memperlakukan proses verifikasi soal infrakstrur Stadion (2008/2009) lalu. Sepakbola Medan mati suri. Beberapa fasilitas penunjang seperti ruang ganti, lampu, rumput tidak sesuai dengan manual untuk menggelar Indonesia Super League (ISL). Stadion Teladan menjadi saksi mati prestasi PSMS.

Kota Medan tidak lagi menjanjikan bagi pemain bola. Banyak pemain memilih berkarir di luar Medan. Satu bukti nyata, adalah pemain yang membawa PSMS ke final 2008 lalu pun ikut kabur. Tanpa magnet besar, Saktiawan Sinaga, Mahyadi Panggabean, Markus Ririhina dan Legimin Rahardjo ada generasi terakhir emas tim berlogo Tembakau ini. Bagaimana untuk kelanjutannya? Siapapun akan kesulitan untuk menjawabnya. Sekalipun anda dedengkot di PSMS. Selentingan nasib PSMS bergantung hasil Pilkada Kota Medan selalu mewarnai.

Itulah sebuah pandangan yang sudah tertanam dari belasan tahun lalu. Akibatnya, sulit mengantungi harapan PSMS bisa bangkit kembali. Apalagi saat ini bermain di level Divisi Utama. Sebuah fakta tambahan yang menyatakan tidak akan ada lagi calon bintang dari PSMS. Sebuah kondisi yang memiriskan hati kita pencinta Ayam Kinantan. Padahal sebelum proses verifikasi, Stadion memberikan efek yang luar biasa. Skuad Merah Putih bermaterikan pemain yang berasal dari Medan. “Kalau waktu dulu main di Medan, bulu kita sudah merinding duluan sebelum bertanding,” kata Rudi Keltjes, pelatih yang pernah merasakan kerasnya atmosfer di Stadion Teladan. Lantas, bagaimana cara mengembalikan kebesaran itu?

Orang-orang selalu mencanangkan program pembinaan. Namun selain itu, ada faktor lain yang sangat menentukan dan sudah terbukti menjadi ikon penting. Infrakstruktur adalah menjadi pendorong utama melahirkan kembali pemain berbakat. Membangun stadion baru atau merenovasi Stadion Teladan memang harus segera dilakukan. Sejarah PSMS puluhan tahun lalu menegaskan, Stadion yang representative melahirkan pemain bintang.. Saat itu Stadion Teladan memberikan efek luar biasa bagi Kota Medan. Membangun atau merenovasi Stadion Teladan adalah hal yang bisa mengangkat moral pemain untuk bergairah naik ke Indonesia Super League (ISL).
Sepakbola juga akan terus mengalami kemajuan. Ribuan anak-anak dari Sumatera Utara tetap bercita-cita menjadi pemain bola. Di satu sisi lagi, dalam jumlah yang sama juga merindukan tontonan yang menarik tersebut. Sepakbola itu tidak pernah mati, selalu beregenerasi. Dengan infrakstruktur stadion yang layak, menghasilkan makna kepuasan. Melahirkan sebuah permainan yang menarik dan nyaman. Selain itu juga mampu meminimalisir tingkat benturan atau cedera pemain.



Selain menjadi sebuah entertaint, stadion yang layak menjadikan ajang beredukasi. Rumput yang berkualias melahirkan permainan yang punya identitas. Medan sebagai kota ketiga terbesar di Indonesia, masih belum memilikinya. Soal Stadion kalah dengan kabupaten di daerah lain, seperti Madiun dan Cirebon atau juga Sleman. Tidak memiliki klub professional, mereka memiliki Stadion yang lebih baik dari Stadion Teladan.
Apa harus jadi tuan rumah PON dulu baru di renovasi???? Atau tunggu terjadi bencana dulu baru di renovasi atas bantuan FIFA???? Kita tak ingin kota medan terkena musibah. Tapi sampai kapan kah stadion teladan akan seperti ini terus????
Sebuah pertanyaan yang mendasar dari lubuk hatii dan keinginan melihat stadion teladan menjadi stadion standard internasional
Apalagi kota medan akan membuat program “visit kota medan 2012” semoga dengan ini stadion teladan akan direnovasi agar kota medan akan menjadi kota yang banyak dikunjungi para wisatawan asing maupun local.
Dengan di renovasi stadion teladan akan membangkitkan lagi animo penonton ke stadion teladan dan secara tidak langsung akan merangsang kembali masa kejayaan PSMS MEDAN .

Lihat saja pada waktu PSMS MEDAN VS PRO TITAN baru 15 menit saja di guyur hujan stadion teladan sudah tidak dapat dipakai lagi  terpaksa di tunda , untung saja kesetiaan SMeCK HOOLIGAN tidak luntur karena hujan deras , mereka rela menunggu dan kehujanan sedangkan 2 kelompok supporter PSMS MEDAN  yang lain udah pulang, mereka pun melakukan aksi heroik dengan menguras lapangan dan pertandingan Di Lanjutkan. Lhat juga pada pertandingan pro titan vs persiraja sama juga kejadian nya hujan 15 menit lapangan sudah tidak bisa dipakai.

Tapi dari ini semua aku yakin stadion teladan akan kembali berdiri megah dan kembali nya kejayaan PSMS MEDAN , tapi itu kapan kah stadion teladan renovasi??? Stadion teladan di renovasi bagai mimpi disiang bolong.

Catatan pribadi ku dengan kutipan catatan lain : AKBAR MAULANA

Kamis, 09 Juni 2011

Suporter: Revolusi pengurus PSMS!

Suporter: Revolusi pengurus PSMS!

WASPADA ONLINE


(WOL Photo/Austin Antariksa)
MEDAN - Kegagalan PSMS Medan mencapai Superliga dalam dua musim terakhir membuat masyarakat pecinta Ayam Kinantan gerah. Terutama musim ini, disaat harapan terbuka lebar dengan lolosnya PSMS ke babak delapan besar. Untuk itu, tuntutan merevolusi pengurus kembali menggema.

Salah satu yang gencar bersuara adalah Suporter Medan Cinta Kinantan (SMeCK) Hooligan. SMeCK kerap melontarkan tuntutan agar dilakukan perubahan di tubuh pengurus maupun manajemen PSMS. Tentunya individu-individu yang duduk di kursi kepengurusan. “Menurut kami, pengurus sekarang memang harus direvolusi. Manajemen juga harus dari pihak yang paham betul cara memajukan PSMS. Kami tahu ini tak mudah, tapi kami siap bantu,” ujar Ketua Umum SMeCK Hooligan, Nata Simangunsong, kepada Waspada Online tadi malam.

Satu hal yang menjadi catatan adalah menyoal mendatangkan pemasukan bagi PSMS di luar APBD. Tak dipungkiri selama ini PSMS masih sangat bergantung pada anggaran dari pemerintah daerah. “Pengurus dan manajemen yang ada selama ini masih sebatas paham mengurus bola, tapi tidak paham membuat klub bola yang diurus menjadi klub profit. Maka itu mari kita coba sama-sama untuk menjadikan PSMS sebagai klub yang berhasil lepas dari APBD dan bisa untung dari segi pemasukan,” tukasnya.

Yang tentunya juga perlu disorot adalah penggunaan APBD yang tak pernah ada transparansi. Termasuk pemasukan dari penjualan tiket saat PSMS menggelar laga kandang di Stadion Teladan. Wajar saja jika dugaan-dugaan lantas muncul. “Kalau pakai APBD, harusnya ada laporan yang diketahui publik. Jangan sampai ditutupi seolah-olah memang ada yang tidak beres,” lanjut Nata.

Beredar wacana bakal ada perubahan di struktur kepengurusan setelah Walikota Medan Rahudman Harahap duduk di kursi ketua umum. Terutama di posisi-posisi vital seperti Sekretaris Umum, Ketua Harian, dan lainnya.

Rabu, 08 Juni 2011

12 Juni Penentuan Pemain Yang Dipertahankan

12 Juni Penentuan Pemain Yang Dipertahankan
|
psms-kado.jpg
TRIBUN MEDAN/TAUFAN WIJAYA
TRIBUN-MEDAN.com MEDAN -
Seluruh mantan pemain PSMS akan dikumpulkan pada 12 Juni mendatang. Agendanya ialah pelunasan hak-hak pemain berupa gaji dan pengumuman pemain yang dipertahankan atau tidak. Hal ini disampaikan Sekum PSMS, Idris S.E.

Jadwal ini diundur kembali. Sebelumnya dijanjikan 7 Juni, lalu dimundurkan 10 Juni dan terakhir 12 Juni. Idris menyebutkan ada sedikit kendala teknis. Sehingga pihaknya terpaksa mengundur pertemuan tersebut.

"Ada beberapa pemain yang akan dipertahankan. Tentu ini harus diberitahukan secara langsung," ujarnya kepada tribunmedan.com, Selasa (7/6/2011). Tetapi hingga saat ini pemberitahuan kepada mantan pemain masa kontrak 2010/2011 belum disampaikan. 

Selasa, 07 Juni 2011

Sejak Bocah Cinta PSMS

Sejak Bocah Cinta PSMS

|

Wartawan Tribun Medan/raf
TRIBUN-MEDAN.com,  MEDAN - Sejak mulai mengenal sepakbola dan oleh kawan-kawan sepermainannya dinobatkan sebagai "yang terjago", hanya ada satu keinginan dibenak Rinaldo. Ia ingin menjadi bagian dari PSMS Medan. Padahal klub besar yang berada paling dekat dengan kampungnya adalah PSDS Deliserdang.

"Aku juga nggak tahu kenapa. Mungkin karena semenjak kecil aku lebih sering mendengar soal PSMS. Sejak masuk usia remaja sebenarnya aku sudah main untuk PSDS. Tapi begitulah, keinginan untuk masuk PSMS tetap saja menggebu," kata Rinaldo dalam perbincangan dengan Tribun, melalui sambungan telepon dari Medan, Senin (6/6). Rinaldo saat ini sedang berlibur di "kampungnya", Perbaungan, sebuah kota kecil di Kabupaten Serdangbedagai.

Sebelum menjadi bagian dari Serdangbedagai, selama berpuluh tahun Perbaungan masuk ke wilayah Kabupaten Deliserdang. Dari kota kecil ini lahir cukup banyak pemain PSDS Deliserdang. Pamor PSDS, terutama saat masih berada di kompetisi Perserikatan dan Liga Indonesia (pra ISL) pada dasarnya setara PSMS. Namun itu tadi, perkara rasa suka tak dapat diperdebatkan.

"Waktu musim lalu bisa masuk PSMS rasanya senang sekali. Apalagi aku beberapa kali dipercaya jadi pemain utama. Aku bahagia main di PSMS. Kalau bisa, aku ingin main di sini untuk jangka waktu lama. Aku ingin jadi starter musim depan. Ingin bawa PSMS ke ISL," ujarnya.

Tapi hingga saat ini Rinaldo belum dihubungi manajemen PSMS Medan. Padahal di saat yang sama, kontak telah dilakukan manajemen PSLS Lhokseumawe. "Mereka kontak belum lama ini. Menawarkan aku untuk main di sana. Tapi jawaban belum aku berikan. Bagaimana pun PSMS tetap nomor satu di hati. Aku berharap ada sinyal secepatnya dari manajemen," kata Rinaldo.(raf)

SMeCK Hooligan Nilai Merger Tak Rasional

SMeCK Hooligan Nilai Merger Tak Rasional
RandyHutagaol
TRIBUN-MEDAN.com MEDAN - Wacana merger PSMS Medan dan Bintang Medan mendapat tanggapan dingin dari SMeCK Hooligan. Wacana itu disebutkan sebagai angin lalu. Tidak memiliki pijakan rasionalitas yang kuat.
Ketua Umum SMeCK Hooligan, Wahyudinata Simangunsong menyebutkan wacana itu tidak perlu ditanggapi dengan serius. “Rasionalitasnya apa coba?. SMeCk tetap mendukung PSMS dan Bintang Medan. Tetapi soal merger itu terlalu dini untuk digembar-gemborkan. Parahnya lagi sulit diterima akal sehat di tengah kekisruhan PSSI ini,” katanya, Selasa (8/7).
Nata menyebutkan pihaknya sudah beraudiensi dengan Ketua Umum PSMS Rahudaman Harahap dan CEO Bintang Medan Dityo Pramono. Namun tidak ada sedikitpun haluan ke arah merger. “Saya pikir yang mewacanakan itu tidak memiliki kapasitas mengatakan itu. Karena itu tidak perlu dikomentari lah,” pungkasnya.(raf/ tribunmedan.com)

MAMPUKAH PSMS MEDAN LOLOS ISL MUSIM 2012-2013??